Lebih cepat, lebih jauh, lebih tinggi … (Moralitas Mahasiswa, Salah Siapa?)

Tulisan Pribadi (bisa juga dirujuk di khilafahku.wordpress.com)

Setiap event olahraga terbesar sejagad, Olimpiade berlangsung, kita pasti mendengar rangkaian kata dalam judul tulisan ini. Sebuah motto yang memacu para atlit berlomba-lomba mencetak prestasi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Motto yang membuat mereka setia berlatih bertahun-tahun dibawah asuhan pelatih, hidup di dalam karantina dan terjun ke banyak kejuaraan sebagai persiapan untuk ‘hanya’ mendapatkan sekeping emas (baca: mengukir prestasi). Lebih dari itu, terdorong oleh apa yang didapat setelah merebut medali, ambil contoh menjadi bintang iklan atau sedikitnya mendapatkan sponsor, membuat para atlit jauh lebih bersemangat dalam mempersiapkan kemenangannya. Karenanya, menjadi lebih cepat, lebih jauh dan lebih tinggi adalah tujuan antara, yang apabila teraih akan menjadi syarat perlu bagi tujuan berikutnya.

Tak hanya para atlit, setiap manusia pasti memiliki banyak tujuan dalam hidupnya. Disusunnya banyak tujuan tersebut menjadi rangkaian tujuan dan diupayakannya mencapai sebuah tujuan dan kemudian beralih kepada tujuan yang lain. Pun seorang mahasiswa. Menjadi mahasiswa adalah (mungkin) sebuah tujuan dan lulus dengan indeks prestasi tinggi adalah tujuan berikutnya. Setelah itu bekerja dengan gaji besar menjadi tujuan yang lebih jauh.

Di sisi lain, tuntutan untuk berhasil dan ‘memaksa’ seseorang masuk ke dalam lingkungan yang penuh rutinitas dan tekanan sangat berpengaruh terhadap bagaimana mencapai sebuah tujuan. Ada di antara manusia yang begitu hati-hati dalam mencapai tujuannya karena keyakinannya bahwa dirinya bertanggung jawab baik sekarang maupun di masa depan atas tindakannya dalam mencapai tujuan dan ada pula manusia yang ‘hanya’ berpikiran keberhasilan tanpa peduli akan pertanggungjawaban. Dan tak sedikit di antara manusia, termasuk atlit profesional, salah menetapkan tujuan.

Menengok kehidupan kampus, khususnya mahasiswa, sebuah tujuan kuliah mereka adalah menimba ilmu dengan kriteria keberhasilan indeks prestasi. Beragam mahasiswa bisa ditemui jika dilihat dari masalah menimba ilmu dan indeks prestasi. Ada mahasiswa yang benar-benar menimba ilmu dan menyadari bahwa indeks prestasi adalah satu ekses saja, namun ada pula (mungkin lebih banyak, ya?) yang menjadikan indeks prestasi sebagai tujuan dan tak peduli ilmu terkuasai atau tidak. Dalam kelompok kedua, yang tampak (diakui ataupun tidak) adalah fenomena tindakan yang tidak bertanggung jawab. Konsekuensi ‘mahasiswa harus belajar’ tidak terjadi dan belajar yang bisa mengambil bentuk tugas, quiz atau evaluasi dikeluhkan. Jalan pintas (baca: nyontek, copy-paste tugas kuliah dan lainnya) dipandang sebagai solusi. Dampaknya, fenomena tak-dikuasainya ilmu oleh mahasiswa menjadi terasa ketika mahasiswa harus face-to-face dengan dosen baik dalam presentasi dan diskusi tugas, juga ketika sidang tugas akhir.

 

Di sisi ini kita patut bertanya, seperti inikah moralitas mahasiswa? Salah siapa?

 

Mungkinkah tuntutan keluarga atau ‘intimidasi’ penalty cost kalau masa studi melewati batas waktu atau tuntutan syarat kerja IPK harus tinggi menjadikan mahasiswa mengambil jalan pintas? Jika itu semua membuat takut, bukankah bentuk interaksi dosen-mahasiswa, seperti mekanisme dan bentuk ujian, seharusnya bisa memberi arah bagi mahasiswa dan membentuk mahasiswa tak hanya intelektualitasnya namun moralitasnya jua?

 

Itu di lingkup kampus dalam lingkaran proses pendidikan. Bagaimana di luar lingkup kampus?

 

Tak dipungkiri, pelaku korupsi tidak sedikit yang pernah bertitel sebagai mahasiswa, bahkan yang berstatus panutan mahasiswa di kampus (baca: para dosen). Di sini, mahasiswa kehilangan panutan.

 

Selain salah dalam menetapkan tujuan di lingkup kampus, tak sedikit mahasiswa sebagaimana manusia lainnya bisa salah menetapkan kriteria keberhasilan dalam hidupnya. Apa sebab? Tengoklah wajah peradaban kita saat ini. Citra kecantikan adalah mereka yang langsing, berpostur tinggi, hidung yang mancung, bibir yang tebal. Citra ketampanan adalah berdada bidang dan perut serta lengan berotot. Takaran keberhasilan adalah semata uang dan lengkapnya fasilitas hidup. Di sini, mahasiswa  juga manusia yang lain mengalami mis-orientasi hidup. Hakikatnya, mereka tergulung oleh peradaban saat ini.

 

Ada di antara mahasiswa yang tak-tergulung oleh wajah peradaban itu. Mereka perhatian dan ber-empati terhadap elemen-elemen masyarakat yang menjadi korban peradaban saat ini. Ada yang karena terpinggirkan dan ada yang benar-benar ber-empati. Mereka ini bolehlah dikatakan memiliki moralitas. Namun, tak cukup gerakan dalam lingkup ini hanya gerakan moral. Tak cukup menyuarakan penderitaan, meski itu patut diacungi jempol.

 

Lebih dari itu, gerakan mahasiswa haruslah juga memberikan solusi, meski sebuah konsep. Konsep yang terus diperjuangkan. Itulah ideologi. Dan yang dibutuhkan saat ini adalah mahasiswa yang ideologis, berkonsep dalam perjuangannya dan berjuang untuk konsepnya.

 

Ah, jauh-jauh mahasiswa ideologis … moralitas mahasiswa kita saja amburadul. Kini, kita baru memiliki mahasiswa berumur yang setiap hari duduk manis di kelas, ‘kerjasama’ dalam tugas dan ‘berupaya menyelamatkan diri’ ketika ujian … bukan mahasiswa yang dewasa, yang siap dengan tanggung jawab atas tindakannya … sekarang dan nanti.

 

Jika komentar saya pesimis begini, salah siapa?

 

Popularity: 28% [?]

Leave a Comment